Tadi pagi saya pergi ke gereja berdua aja sama kakak saya, si Mas Didit. Di perjalanan pulang, saya dan dia sempat ngobrol sedikit. Biasa deh ngobrol tentang pacar sebentar, liburan, kuliah. Ketika ngomongin kuliah, saya terngiang terus pembicaraan saya dan kakak saya ini:
Mas Didit : Ntar lulus kuliah langsung S2 dek?
Saya : (menggeleng) aku aja gak yakin pengen jadi psikolog.
Mas Didit : Lho kenapa?
Saya : Hmm, gatauuu gak yakin ajaaa.
Mas Didit : Terusin aja kali dek. Indonesia tuh butuh orang-orang yang ahli di satu bidang. Kebanyakan orang-orang lulus S1 semuanya kerja di bank.
Saya terdiam. Campur aduk mempertanyakan dalam hati. Ya, Indonesia memang butuh orang yang ahli, tapi tidak berhenti di situ. Indonesia butuh orang yang ahli yang mau membangun negaranya. Permasalahannya adalah apakah psikologi adalah bidang di mana saya ingin menjadi ahli? Di mana saya punya passion untuk menjadi ahli? Ingin dan passionlah yang sering membuat saya ragu. Saya yakin Indonesia tidak butuh orang ahli yang tidak punya keinginan dan passion di bidang yang menjadi ahlinya. Bahkan sebaliknya, saya yakin seseorang tidak bisa menjadi ahli tanpa keinginan dan passion itu. Saya masih butuh bertanya pada hati.